Senin, 19 September 2016

Menanti Pengganti Taman Bundaran Phinisi

Sebagian besar pembaca tentu sudah paham apa dan bagaimana itu sebuah ikon dan Simbol. Olehnya itu saya yang masih hijau ini mohon ijin untuk sedikit berbagi dengan teman-teman yang mungkin juga sudah paham tapi belum bisa membahasakan apa dan bagaimana sih sebenarnya ikon dan Simbol  itu. (he..he..he...jadi seperti Guru Bahasa Indonesia ya...)
Jadi ikon itu bisa diartikan sebagai gambar atau tanda dari sesuatu yang menunjukkan atau mewakili sesuatu...(syahrini bangeeeet yaaa... hahaha)... 
 
Versi lengkapnya, Ikon adalah tanda yang mirip dengan objek yang diwakilinya. Dapat pula dikatakan, tanda yang memiliki ciri-ciri sama dengan apa yang dimaksudkan. Misalnya, pass photo anda merupakan ikon anda sendiri, lalu gambar matahari pada suatu poster. Ikon merupakan perwakilan dari ciri-ciri fisik (2 atau 3 dimensional) dimana bentuk tersebut menyerupai dengan apa yang direpresentasikannya. Ikon tidak memerlukan kesepakatan dalam memaknainya, ikon bukan hanya berupa gambar yang disederhanakan namun setiap gambar yang mewakili obyek yang direpresentaikan.

Lalu akan muncul pertanyaan, apa yang membedakan antara Ikon dengan Simbol..?? 
Maka jawabannya adalah bede bangeeet.....

Simbol merupakan tanda berdasarkan perjanjian yang disepakati bersama. Simbol berada pada ranah konotatif, sedangkan ikon merupakan ranah denotatif. Makna yang muncul dalam simbol memerlukan kesepakatan bersama, sedangkan ikon tidak.Misalnya, simbol bintang pada bahu dan topi seorang Jendral, semakin banyak bintang, semakin tinggi pula pangkat nya

Dan... kenapa saya harus membahas makna kata ikon dan simbol di awal tulisan ini..?? BERTANYALAH PADA RUMPUT YANG BERGOYANG kata Om Ebiet... hihihii.....

Para pembaca yang cantik2 dan cakep2..., 
Bagi kalian yang pada alamat KTP nya tertulis Kabupaten Bulukumba terutama yang berdomisili di Kota Bulukumba dan sekitarnya mungkin sudah melihat adanya aktifitas pembongkaran Taman Bundaran Phinisi yang selama ini menjadi Ikon Kota Bulukumba. 
Apakah Anda setuju ini dibongkar?? 
Kalau ditanya pendapat saya pribadi sih jawabnya pasti oke-oke saja...asalkan................................ (kok pake asalkan...????????????)
Nah ini dia yang menjadi inti tulisan ini...

Kita tentu mau (dan harus) tahu apa dan bagaimana konsep perencanaan bangunan penggantinya nanti, apapun itu bentuknya. Karena dari konsep itulah kemudian akan tergambar dengan jelas apa sebenarnya gambaran keinginan dari pemesan konsep. Apakah bangunan pengganti Taman Bundaran Phinisi ini akan dijadikan Ikon Bulukumba atau hanya sekedar bangunan biasa untuk mengisi kekosongan lahan saja.
Nah... terlepas dari opsi bangunan biasa untuk mengisi kekosongan lahan (yang saya pikir presentasinya cuma 0,00001 %), sebagian besar pembaca mungkin sepakat jika di tempat ini harus terbangun sesuatu yang ikonik dan simbolik sebagai salah satu Point of View nya Kota Bulukumba.
 
Pembangunan sesuatu yang akan difungsikan sebagai ikon/simbol sebuah kota entah itu bentuknya tugu yang tinggi seperti monas misalnya, atau patung/sejenisnya yang dikelilingi kolam dengan air mancur, dan bahkan terkadang dalam bentuk bangunan bersejarah dan monumental, tentu harus melewati kajian dalam bentuk konsep perencanaan yang yahuud dan tidak asal-asalan. Saya dan kita semua pasti tahu bahwa konsep asal-asalan, baik itu konsep asal bapak senang, konsep asal jadi, konsep asal ada anggaran yang turun dan beragam bentuk asal yang lain, pasti ujung-ujungnya akan melahirkan cibiran dan cemoohan yang berkepanjangan.

Sebuah bangunan yang didesain dengan tujuan untuk menjadikannya sebuah Point of View pada sebuah kawasan setidaknya harus memiliki sesuatu yang ikonik dan simbol-simbol yang  terwujud dalam bentuk yang abstrak dan filosofis. Banyak orang melihat hasil karya desain Arsitektur berupa wujud / wadah yang kasat mata, berupa sebuah bangunan yang menjulang megah di atas sebidang tanah, seolah-olah merupakan bangunan yang mati tanpa nilai atau makna yang berarti. Prinsip para pengguna bangunan dari karya desain arsitektur ini adalah bagaimana mereka dapat menggunakan dan memfungsikan bangunan ini dengan nyaman, luncar dan aman, lengkap dengan fasilitas pelayanan yang diinginkan saat melakukan aktifitasnya di dalam bangunan tersebut. Begitu juga orang lain yang bukan pengguna bangunan ini dapat menikmati indahnya bangunan karena tampilan estetika yang unik dan menarik. Namun kalau kita mau mengkaji lebih dalam lagi bahwa sebuah karya desain arsitektur disamping tuntutan tersebut di atas tentunya diperlukan juga suatu nilai-nilai yang tidak dapat diujudkan dalam bentuk wadah (bangunan) yaitu suatu nilai filosofi yang mendasari terciptanya bangunan tersebut. Filosofi Bangunan (demikian istilahnya dalam Ilmu Arsitektur) akan memberikan sentuhan tersendiri sehingga suatu karya arsitektur bukan hanya sekedar sebuah bangunan mati yang megah menjulang di atas tanah saja. Namun sebuah karya desain arsitektur yang mempunyai nilai dan makna filosofi yang tinggi yang seolah-olah mempunyai "roh" yang hidup.

Bulukumba sangat amat kaya dengan beragam keunikan baik itu budaya, alam, dan bahkan sumber daya manusianya. Olehnya itu Kota Bulukumba wajib untuk mampu menjadi miniatur yang bisa mewadahi semua kelebihan itu karena kota kita ini akan menjadi teropong utama untuk melihat dan mengetahui segala apa yang terkandung di dalam Kabupaten Bulukumba secara menyeluruh.

So... diakhir tulisan ini saya berharap semoga apa pun yang nantinya berdiri sebagai pengganti Taman Bundaran Phinisi tidak membuat para Arsitek hebat Putra dan Putri Bulukumba terpaksa harus memalingkan wajahnya.    
Share

Jumat, 02 September 2016

Kahayya : Keindahan yang Terlupakan

Kawasan pegunungan Kahayya merupakan salah satu destinasi wisata di Kabupaten Bulukumba Provinsi Sulawesi Selatan yang sampai detik ini belum juga tersentuh. Keelokannya yang laksana surga dunia hanya dinikmati oleh para pencinta alam yang rutin melakukan pendakian untuk sekedar menghirup sejuknya udara pegunungan yang belum terkontaminasi polusi udara. 

Kahayya adalah potensi yang belum terolah. Jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh dari kota kabupaten, menjadi terasa sangat jauh karena akses darat yang sangat buruk. Sering terbayang dalam angan, Kahayya dimanfaatkan sebagai tempat peristirahatan dengan penataan kawasan yang tidak merusak lingkungan. Kahayya dengan konsep sustainable development... Kahayya dengan jalur darat yang mulus sehingga memanjakan wisatawan yang datang berkunjung... Kahayya dengan geliat ekonomi masyarakat yang berkembang pesat pada sepanjang jalur menujunya... Kahayya yang bisa membuka mata dunia tentang keberadaan Bulukumba dengan segala keindahan alamnya...

Menata Kahayya tidak bisa dilakukan setengah-setengah. Dibutuhkan sebuah masterplan pengembangan kawasan  wisata yang terintegrasi dengan pengembangan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Bulukumba agar pembangunan bisa terkontrol dengan baik.
Kahayya membutuhkan Good Will dari seluruh stakeholders terkait...
Kahayya menunggu sentuhan tangan dingin putra putrinya...
Agar potensi luar biasa itu tidak terlalu lama tertidur..
Agar potensi luar biasa itu tak lagi diklaim oleh Kabupaten lain....


Share

Penipuan Lewat Facebook : Ketik.... Lihat Apa yang Terjadi

Kawan-kawan para pengguna media sosial terutama Facebook pasti sering melihat postingan dari seseorang atau pihak tertentu yang mengatasnamakan dirinya aktor/aktris atau orang terkenal yang menampilkan gambar-gambar aneh dan membuat kita penasaran seperti apa lanjutannya. Gambar itu biasanya diikuti oleh kata-kata seperti misalnya..

" Coba perhatikan gambar di atas, kemudian like, dan ketik angka 1... anda tidak akan pernah menyangka apa yang akan terjadi...."

Dan apa yang terjadi...???? TIDAK TERJADI APA-APA!!!!...
Atau dengan menggunakan modus lain seperti misalnya menampilkan gambar pedang kemudian menulis...:
"Inilah pedang Nabi Muhammad SAW.. yang like dan mengetik Aamiiin semoga bertemu nabi di Surga Aamiiin.... #like n share..."

Atau menampilkan 2 gambar mirip tapi berbeda dengan meminta kita memilih salah satunya dengan mengetik angka 1 atau 2 dengan kata-kata..

"Pilih salah satunya.... 1 atau 2... #like n share..." 

Dalam salah satu artikel yang dirilis oleh Yahoo! News tertulis..:

Begitu telah mengumpulkan banyak "like", halaman itu kemudian dijual untuk mendapatkan uang kepada para pelaku bisnis agar mereka terlihat populer. Sebuah blog yang diposkan oleh Daylan Pearce, seorang ahli mesin pencari di Next Digital, Melbourne, Australia, menjelaskan bagaimana cara kerja penipuan (scam) dan menunjukkan bagaimana halaman-halaman tersebut dijual. Unggahan gambar yang berisi deskripsi seperti "klik 'like' jika anda bisa melihat harimau" atau "berikan komentar dan lihatlah yang akan terjadi" digunakan untuk mengumpulkan "like" dan komentar untuk sejumlah halaman.

Begitu halamannya telah mengumpulkan ribuan "like" dan komentar, maka halaman itu akan memiliki posting tertinggi dalam News Feed para pengguna Facebook. "like" bagaikan mata uang bagi situs tersebut. Pearce mengungkapkan bahwa halaman dengan 100.000 "like" dapat dijual seharga 200 Dollar  (sekitar 2 juta Rupiah).

Pearce menjelaskan dalam blognya, semakin banyak "like" dan "share" serta komentar yang didapat, semakin terbuka pula peluang mendapatkan keuntungan dalam jangka waktu pendek dan panjang. Begitu sebuah halaman sudah mendapatkan 700 ribu "like" (dengan cara menipu), maka halaman tersebut akan dijual ke orang lain yang ingin populer dalam waktu cepat. Informasi halaman pun diubah bukan lagi soal kanker, binatang dsb tetapi mengenai bisnis.

David Em, peneliti jaringan keamanan senior di Kapersky Lab mengatakan, "Situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter mengalami peningkatan target kejahatan dunia maya".

 Setelah membaca postingan di atas tentu sudah dapat dimengerti bahwa semakin banyak "like" dan "komentar" serta "share" suatu page/halaman di Facebook, maka nilai jualnya pun semakin tinggi. Hal ini pun menegaskan bahwa telah terjadi penipuan dan pembohongan publik lewat jejaring sosial sementara pihak Facebook sendiri tidak pernah memberikan lampu hijau terhadap hal-hal seperti ini.

Jangan mau dimanfaatkan oleh admin page nya. Kalau kawan-kawan mendapatkan postingan seperti ini, (terutama yang berkedok empati dan menjual Agama) mari langsung melakukan report ke pihak Facebook...

Semoga Bermanfaat....











Share

Rabu, 31 Agustus 2016

THE RAINBOWS


Langit baru saja menghentikan aktivitasnya membasahi bumi. Sesegera mungkin aku melangkahkan kaki keluar dari kungkungan dinding kamar asrama mahasiswa salah satu perguruan tinggi negeri di kota lumpia, tempat aku menuntut ilmu untuk meraih gelar magister di bidang perumahan permukiman (yang Insya Allah akan membanggakan orang tua, mertua, istri dan anak-anakku di kampung… hehehehe…). Sesampai di halaman asrama, mataku menatap kaki langit mencari sesuatu yang telah begitu lama kurindukan. Sesuatu yang begitu indah, yang dimasa kecilku sering kunikmati dengan nyaman dikala guyuran air langit berganti semburat panas sang dewa surya. Lengkungan warna penuh pesona pertanda kuasa Sang Maha Pencipta seolah enggan memperlihatkan diri lagi. Pelangi telah begitu lama tak lagi kunikmati keindahannya…(atau aku selalu berada pada tempat dan waktu yang salah ???...), biasan cahaya indah itu kini hanyalah sebuah dongeng pengantar tidur si buyung tentang bidadari yang turun ke bumi untuk sekedar berendam di telaga indah….
Sampai kapan tangga bidadari itu akan menyembunyikan diri??? apakah panas kota serta pongahnya penghuninya telah mengalahkan kelembutan dan keindahan mereka??. Sebuah tanya yang mungkin akan enggan untuk kita jawab…
Hari ini kembali aku mengeluh, takut ketika suatu saat di esok hari kedua pangeranku tiba-tiba bertanya, kemana tangga indah berwarna-warni yang sering ayah ceritakan??? Malu ketika suatu waktu nanti mereka ingin naik ke surga tempat bidadari-bidadari itu bertahta sementara tangganya sudah lenyap ditelan kerakusan pendahulu mereka…
Hari ini kembali aku hanya bisa menerawang, menghayalkan sesuatu yang bukan tidak mungkin akan kembali kunikmati di hari-hari depan, sesuatu yang kedua pangeranku akan duduk mengapitku disaat aku menceritakan bahwa tangga itu pernah bersembunyi untuk waktu yang sangat lama, sesuatu disaat aku berpesan kepada mereka untuk menjaga tangga itu agar tetap ada dan dapat dinikmati oleh pangeran-pangeran selanjutnya setelah mereka….SEMOGA…
Share

Selasa, 30 Agustus 2016

TAK TERDUGA



        Dalam suatu kesempatan beberapa minggu yang lalu saat melakukan perjalanan ke ibu kota negara ini, secara tidak sengaja saya bertemu dengan seorang perempuan tangguh yang pernah ikut bertarung  dalam kancah perpolitikan di Kabupaten Bulukumba. 
Beliau masih dengan tampilan lamanya yang pernah saya kenal... sederhana...anggun...dan bersahaja.
Senyum yang tak pernah lepas, guyonan ala aktivis disertai tawa lepas membahana membuat saya ikut bisa merasakan betapa tiada beban yang bisa membuat beliau terpuruk.

Pertemuan kami layaknya pertemuan seorang adik dengan kakaknya...
Diskusi lepas yang tak disertai tendensi apapun mewarnai acara makan malam kami saat itu. 
Betul-betul tanpa terbungkus kepentingan....
Meski sebagai adik, tentu saya punya kepentingan tersembunyi..hahahahaha...
Iya... saya mau belajar... mau berguru ke Beliau...
Belajar tentang pola pengembangan kapasitas diri yang Beliau miliki...
Belajar tentang manajemen hati yang sangat Beliau pahami...

Belajar tentang banyak hal....mencoba meraup sebanyak mungkin hal-hal positif yang beliau miliki.
         
Pertemuan memang akan selalu diakhiri dengan perpisahan...
Demikian juga dengan cerita indah malam itu....
Kami berpisah dengan diiringi keyakinan bahwa hari-hari esok akan jauh lebih baik dari apa yang telah terjadi dan mewarnai perjalanan hidup kami...



Share

(Masih Dalam) MIMPI...

Bulukumba itu hebat? Itu pasti...
Tak seorangpun bisa mengingkarinya apalagi jika itu dikaitkan dengan sumber daya yg dimiliki. Tapi kehebatan itu seakan percuma jika semua potensi yg ada tak juga dikelola secara maksimal. Bulukumba punya pantai dengan pasir putih dan deretan karang yang indah.. Bulukumba pun punya gunung menghijau yg berdiri kokoh laksana tumpukan zamrud yg menunggu elusan tangan penguasa dan pengusaha.

Bulukumba itu keren..? Itu juga pasti...
Apalagi jika semua akses pariwisata itu terkoneksi dalam satu jaringan yang berhubungan erat dan saling menunjang antara satu dengan yang lain.
Terbayang dalam angan, bagaimana geliat ekonomi mikro pada jalur-jalur pariwisata yg akan merubah pola pertumbuhan ekonomi konsumtif menjadi ekonomi kerakyatan berbasis kemandirian masyarakat.
Terlihat jelas dalam mimpi, suatu saat kami yang mau menikmati kelembutan pasir putih pantai tanjung bira tak perlu lagi membayar biaya tiket masuk, dimana Pemerintah Daerah hanya terfokus pada penarikan pajak bagi pengusaha besar yang membuat usaha dalam kawasan itu untuk pemasukan bagi Pendapatan Asli Daerah.
Sementara mereka yang membutuhkan dan ingin menikmati  segarnya udara di kawasan pegunungan  kahayya tak lagi terhambat keinginannya oleh berat medan yg harus dilalui... kahayya yg diisi oleh deretan vila dan resort yg tertata dengan rapi... kahayya yg ditata dengan tetap mengedepankan konsep sustainable development....

Bulukumba bisa berjaya..? 
InsyaAllah itu pasti...
Share